Minggu, 17 Mei 2009

Magneto Therapy

Sehat dengan Gelombang Ultramagnet dan Terapi Listrik
Oleh arixs
Selasa, 29-May-2007, 13:34:35 1389 klik Sampaikan Kisah ini kepada Temanmu Versi Cetak

Kondisi medan magnet bumi yang telah mengalami degradasi mengakibatkan kerusakan lingkungan dan penipisan ozon hingga ultraviolet menyerap dan mengikis medan magnet bumi.

Kini masyarakat modern banyak mengidap MDS (Magnetic Deficiency Syndrome). Gejala yang muncul seperti kepala pusing dan sakit, pundak dan bahu pegal serta kaku, kaki lemas dan lutut ngilu, sakit pinggang, dada nyeri, perut kembung, nyeri otot, sakit urat saraf.

MDS yang berlarut-larut akan memperburuk peredaran darah, metabolisme dan kinerja organ tubuh terganggu, pemicu penyakit stroke, jantung, diabetes, hipertensi, sulit tidur, konstipasi, migren, vertigo.
Tubuh manusia mempunyai elektromagnetik dengan kekuatan 80 juta CPS (cycle per second).

Salah satu cara yang dilakukan untuk menciptakan medan magnet dalam tubuh yakni metode magnetoterapi.
Dengan teknologi modern telah tercipta gelombang magnet buatan yang disebut gelombang ultramagnet yang dapat mencapai daya lebih dari 6.000 kali magnet alam.

Menurut Ketut Susrama, pemilik klinik “Relax & Sehat” di Jalan Yudistira 27 Denpasar ini, terapi medan magnet dapat digunakan untuk penyakit dalam, bedah, saraf, kebidanan, psikiatri, kulit dan kelamin.

Selain dapat membantu masalah penyakit tersebut, kata suami dari Puji Astuti ini, gelombang ultramagnet dapat membersihkan dan memperkuat aura serta meningkatkan kepekaan bagi praktisi meditasi, mempertahankan stamina dan memperlambat proses penuaan.

“Saat terapi gelombang ultra magnet ini, yang perlu diperhatikan adalah dalam jangka 1 jam sebelum dan sesudah terapi sebaiknya jangan makan, karena dapat menganggu sistem pencernaan. Untuk bayi, anak-anak dan orang lanjut usia, waktu pemakaian dua pertiga dari biasanya (20 menit).

Awal penggunaan mungkin menimbulkan sakit kepala ringan, mual atau kesemutan. Pemakaian awal biasanya digunakan gelombang rendah untuk menghindari sensasi yang tidak nyaman,” ungkap tamatan STIE Bandung ini. Dari pengakuan dua orang pasien yang menderita diabetes, kadar gulanya menurun setelah rutin mengikuti terapi ini.

Terapi Listrik

Terapi listrik berfungsi menormalkan fungsi saraf pusat. “Terapi ini bereaksi cepat dalam menangani masalah pada tulang belakang, dan otot baik otot sadar maupun tak sadar,” jelasnya.
Sekali terapi memerlukan waktu 30 menit.

Ia menyarankan untuk pengobatan sebaiknya dilakukan tiap hari selama 30 menit, selama 1-2 minggu.

Penggunaan untuk anak-anak dibatasi hanya 20 menit.
Untuk keluhan seperti sulit tidur, susah atau sering buang air kecil/besar, biasanya sehari atau dua hari sudah teratasi.

Selain itu, kata Susrama, terapi listrik juga dapat membakar gula dan lemak, melancarkan peredaran darah. “Alat ini menyediakan tiga tombol yang dapat dikombinasikan sesuai dengan keinginan si pemakai, yakni heat therapy (massage), optical therapy (pembakaran lemak), negative therapy (listrik),” ujar lelaki satu anak ini. –ast

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar